Mengajar mahasiswa untuk menjadi “pembelajar seumur hidup”

Sebagai dosen di kampus, tantangan besar yang harus dihadapi ialah bagaimana menolong mahasiswa untuk menjadi “pembelajar seumur hidup“.

Apa artinya?

Sangat mungkin bagi dosen dan mahasiswa di Indonesia untuk kembali mengulang pola pendidikan yang telah didapat sebelumnya. Sudah menjadi rahasia umum kalau anak – anak Indonesia lebih cakap menghafal ataupun menggunakan rumus untuk mengerjakan soal. Namun mereka (bahkan pengajar seperti saya) kurang cakap dalam menganalisa maupun memahami alasan di balik penggunaan rumus.

Pada akhirnya, mahasiswa (atau sebelumnya siswa) hanya menjadi pengulang yang tidak kreatif dan inovatif dalam memcahkan masalah. Apalagi jika dihadapkan pada permasalahan baru yang belum ada sebelumnya. Dengan kata lain, mahasiswa hanya menjadi pembelajar dalam masa kuliah dan karena diminta oleh dosen (selain orang tua dan pacar 🙂 ).

Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, orang Indonesia yang menjadi profesor di University of Tokyo, menyatakan bahwa hal inilah yang membedakan pendidikan di Indonesia dengan pendidikan di Jepang atau negara maju lainnya. Karena itu, seharusnya pola pikir pembelajar yang analitis dan selalu ingin tahu perlu ditanamkan dalam benak mahasiswa Indonesia.

Tentunya hal ini menjadi tantangan bagi dosen, karena dosen tidak cukup memberi materi dan membuat soal sesuai materi tersebut. Namun lebih dari itu, dosen dituntut harus memberikan pengalaman belajar yang dapat membangkitkan keingintahuan dan keinginan meneliti dari mahasiswa.

Dosen juga diharapkan dapat memfasilitasi mahasiswa untuk tidak hanya menghafal dan menggunakan rumus, melainkan mempertanyakan alasan penggunaan rumus ataupun teorema tertentu. Hal ini berpengaruh pada pemberian tugas dan evaluasi. Jika tes tertulis menjadi hal yang umum, mungkin sudah saatnya bentuk evaluasi lain yang lebih komprehensif dan “menarik” diberikan pada mahasiswa. Dan seterusnya..

Salah satu tolok ukur keberhasilan dosen (menurut saya) ialah jika mahasiswa menjadi sangat menyenangi topik yang diberikan dosen dan meneruskan untuk mempelajarinya, bahkan di saat mahasiswa tersebut sudah lulus kuliah dan menjadi sarjana. Dan ia menjadi pembelajar seumur hidup.

Advertisements

3 thoughts on “Mengajar mahasiswa untuk menjadi “pembelajar seumur hidup”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s