Perjalanan Panjang Mendapatkan Beasiswa Luar Negeri DIKTI

Bagi sebagian besar orang, mungkin beasiswa Dikti terkesan “mudah” didapatkan (jika anda adalah dosen tetap di PT tertentu). Mungkin hal tersebut ada benarnya. Namun tidak selalu demikian. Saya akan menuliskan “perjalanan panjang” saya untuk mendapatkan beasiswa Dikti. Saya tahu ada rekan – rekan lain yang mungkin menempuh jalan yang lebih panjang (dan berat) lagi. Untuk semua yang sedang berjuang, tetap berdoa, terus  berjuang dan jangan menyerah!

tired runnerMencari dan “melamar” Profesor (awal Agustus 2012)

Langkah pertama yang harus dilakukan ialah menemukan profesor yang memiliki minat penelitian sama dengan kita, bereputasi internasional, dan (jika mungkin) adalah salah satu idola kita di dunia akademik. Sebenarnya saya sangat nge-fans dengan seorang profesor dari Tohoku University yang meneliti di bidang rescue robotics. Saya sudah bertemu 2 kali (secara fisik) dengan beliau, dan mendapatkan respons yang baik saat melakukan follow up via email. Namun ternyata untuk mendaftar ke universitas tersebut, kita harus hadir secara fisik dan mengikuti tes tulis di sana. Hal ini tentu sangat memberatkan secara finansial. Akhirnya dengan berat hati saya putuskan untuk mencari profesor yang lain.

Dari beberapa profesor yang saya “incar”, ada beberapa yang membalas dengan baik, dari Inggris dan Australia. Setelah mempertimbangkan bidang penelitian yang akan saya geluti, saya memutuskan untuk meneruskan kontak dengan Prof. Claude Sammut dari UNSW Australia. Bagaimana caranya melakukan kontak dengan profesor? Saya memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud untuk melamar menjadi mahasiswa bimbingan beliau. Saya jelaskan bidang minat saya dan kaitannya dengan bidang minat dan penelitian beliau. Untuk memperkuat, biasanya saya langsung sertakan CV dan dokumen – dokumen pendukung.

Tes bahasa Inggris (Desember 2012)

Langkah lain yang bisa dilakukan bersamaan dengan langkah di atas ialah persiapan tes bahasa Inggris. Saya dulu mengambil tes IbT (Internet based TOEFL) karena merasa percaya diri dengan skor paper based TOEFL saya, sehingga saya tidak harus banyak menyesuaikan diri dengan model tes yang diberikan (saya sama sekali tidak pernah mengambil tes IELTS). Mengingat biaya tes yang mahal, persiapan yang baik tentunya sangat penting. Bagian tersulit menurut saya ialah speaking dan writing. Saya belajar sungguh – sungguh dengan buku Barron’s dan mengerjakan soal – soal via CD bawaan buku tersebut. Sebelum tes resmi, Vista (penyelenggara IbT di Surabaya, daerah Bonnet – Manyar) memberikan saya tes simulasi gratis dengan hasil yang dikoreksi oleh mereka. Tes simulasi (selama 3 – 4 jam) ini sangat membantu saya untuk mendapatkan feel seperti apa IbT sebenarnya. Akhirnya bersyukur saya mendapatkan nilai yang cukup untuk melamar ke kampus yang saya tuju. Sebagai catatan, perhatikan english requirement dari masing – masing kampus yang anda inginkan.

Apply ke kampus tujuan (Maret 2013)

Setelah membangun komunikasi yang baik dengan profesor, dan melengkapi semua syarat (termasuk skor iBT yang sudah cukup), saya melamar secara resmi ke kampus dan mendapatkan LoA (waktu tunggu sekitar 2 bulan). Selain melamar sendiri seperti yang saya lakukan, anda juga bisa meminta bantuan agen pendidikan Australia yang cukup banyak jumlahnya (misal : IDP Education).

Wawancara Dikti (awal April 2013)

Setelah mengumpulkan semua persyaratan dan melakukan upload ke web Dikti, akhirnya saya dipanggil Wawancara gelombang 3 – 2013. Jarak antara pengumuman dan wawancara seingat saya sangat pendek, sekitar 2 – 3 hari sebelumnya. Jadi anda harus rajin melihat pengumuman di web resmi Dikti. Wawancara berlangsung cukup baik, hanya ada 1 masalah (yang tanpa saya kira akan menghambat saya), hal itu adalah jaminan tahun ke 4 (saat itu Dikti belum punya program perpanjangan beasiswa sampai 2 semester).

Setelah wawancara, saya merasa “aman”. Karena ada pengalaman teman lain di tahun sebelumnya yang mendapatkan beasiswa bahkan saat belum mendapatkan LoA dari kampus tujuan. Kolega sekampus saya yang mendapat pertanyaan interviewer tentang jaminan tahun ke 4, mencoba mengurus ini di kampus, dan mengijinkan nama saya ikut dicantumkan di surat dari kampus. Kolega saya ini langsung melakukan upload surat ke web Dikti, sedang saya baru melakukan upload esok hari. Hasilnya : rekan saya diterima, sedang saya tidak (dengan catatan : tidak ada jaminan tahun ke 4).

Pengumuman wawancara Dikti (pertengahan Mei 2013)

Dengan hasil tersebut, saya mencoba kontak Dikti, dan mendapatkan respons untuk menunggu wawancara ulang. Dengan adanya fase menunggu ini, semua proses lain berhenti, padahal jadwal untuk melamar ke UNSW Australia dan masuk di semester 2 – 2013 semakin mepet. Pada fase ini, Dikti juga mengeluarkan pengumuman bahwa perpanjangan beasiswa diperbolehkan maksimal 2 semester. Sejak pengumuman ini, sepengetahuan saya tidak ada lagi pelamar yang gagal karena tidak ada jaminan tahun ke 4. Sepertinya saya sedang “sial”, tapi saya percaya bahwa tidak ada yang kebetulan, yang ada hanya rencana Tuhan.

Wawancara ulang Dikti (pertengahan Juni 2013)

Setelah menunggu sekitar 2 bulan (dari wawancara pertama), akhirnya saya memperoleh kesempatan untuk wawancara ulang, berbarengan dengan wawancara gelombang 5. Wawancara kali ini berjalan lancar, karena prinsipnya pihak interviewer hanya memastikan bahwa saya sudah memenuhi semua syarat yang mereka minta. Salah satu pesan saya untuk rekan – rekan yang akan mendaftar, pastikan semua syarat sudah dipenuhi sebelum wawancara, karena jika tidak, hal tersebut bisa menunda langkah anda berbulan – bulan.

Pengumuman hasil wawancara ulang (akhir Juli 2013)

Setelah itu saya menunggu kembali hasil wawancara ulang. Saat saya cek di web Dikti, terlihat ada pengumuman panggilan wawancara gelombang 6 dan 7, namun hasil wawancara saya belum keluar. Akhirnya hasil wawancara keluar (bersyukur saya diterima) bersamaan gelombang 5, 6, dan 7! Dapat dibayangkan makin sedikitnya waktu yang tersisa.

Pembekalan Dikti (akhir Agustus 2013)

Langkah berikutnya menurut saya ialah menunggu pembekalan Dikti. Saya secara pribadi merasa tidak mungkin untuk berangkat di semester 2 dan berharap mendapat penundaan sampai semester 1 tahun berikutnya (karena kelas di UNSW Australia dimulai awal Agustus, dan keterlambatan “normal” ialah akhir Agustus). Di fase menunggu pembekalan, ada hal penting yang seharusnya saya bisa lakukan : mengurus Guarantee Letter (GL) di Dikti. Ternyata pengurusan GL bisa dilakukan meski pembekalan belum dilaksanakan. Walhasil beberapa teman 1 angkatan sudah mendapatkannya saat pembekalan, sedang saya belum mengambil langkah apapun.

Dari pembekalan saya mendapatkan informasi bahwa pada prinsipnya kami harus berangkat tahun 2013, dan negosiasi harus dilakukan dengan pihak kampus. Ada juga saran dari pembicara, jika situasi memang tidak memungkinkan, saya bisa meminta surat resmi dari pembimbing yang menyatakan bahwa saya akan melakukan riset di laboratorium selama beberapa bulan (sebelum kuliah secara resmi di kampus tersebut).

Mengurus Guarantee Letter (GL) dan SP Setneg di Dikti (pertengahan September 2013)

Beberapa minggu kemudian saya mendapat informasi dari staf Dikti (dengan menelepon dan SMS ke nomor yang diberikan saat pembekalan) bahwa GL saya sudah selesai. Karena hal ini sangat penting, saya putuskan untuk ke kantor Dikti di Jakarta secara langsung. Meski banyak mendapat info tentang kurang rapinya administrasi di Dikti, namun bersyukur pada hari yang sama saya bisa mendapatkan GL tersebut (sekaligus memasukkan berkas pengurusan SP Setneg). God is good!

Persyaratan Pengurusan Visa – LoA baru dan asuransi (awal Oktober 2013)

Langkah berikutnya ialah melengkapi syarat – syarat pengurusan visa. Dalam hal ini saya sangat dibantu oleh staf IDP Education Surabaya. Jika tidak, bisa pusing 7 keliling karena syarat yang cukup banyak :). Syarat yang sulit saya penuhi ada 2 : LoA baru dari kampus dan bukti pembayaran asuransi kesehatan selama 4 tahun. Pada waktu yang sama, sistem informasi di UNSW sedang bermasalah, sehingga LoA baru yang seharusnya bisa selesai dalam waktu 1 atau 2 minggu, baru bisa selesai sekitar 2 bulan.

Asuransi kesehatan juga menjadi masalah besar untuk saya waktu itu. Sekitar 1 atau 2 tahun sebelumnya, penerima beasiswa hanya diharuskan membayar asuransi untuk 1 tahun pertama saja (dan akan diperpanjang di Australia). Namun sekarang saya harus membayar asuransi selama masa studi di LoA (4 tahun), yang besarnya akan naik 4 – 5 kali lipat jika kita membawa keluarga. Alhasil biaya yang harus dibayarkan untuk asuransi ini amat sangat besar! Bersyukur untuk kemurahan hati pihak UK Petra yang membantu dengan menanggung biaya tersebut, God is good!

Tidak hanya itu, pembayaran harus dilakukan via kartu kredit jika saya berada di luar Australia (saya menggunakan Medibank, asuransi yang relatif murah). Siapa yang punya kartu kredit dengan plafon 90 juta rupiah? Akhirnya masalah terselesaikan dengan bantuan bos saya di jurusan dengan meminjam 3 kartu kredit platinum beliau! Thanks to Pak Murti. Sempat ada masalah juga karena dana sudah terpotong di salah 1 KK namun belum diterima oleh Medibank. Setelah telepon ke Medibank Australia dan komunikasi via Facebook page mereka, akhirnya proses pembayaran selesai. Wow!

Visa (akhir Oktober 2013)

Setelah semua persyaratan masuk, saya dan keluarga menunggu panggilan untuk tes kesehatan. Pihak IDP Education menyatakan biasanya ada jarak 2 bulan setelah tes kesehatan sampai visa keluar (jika tidak ada masalah apa – apa). Web kedutaan Australia juga menyatakan hal yang hampir sama (kontak via telepon). Kami hanya pasrah dan berdoa pada Tuhan. Apapun yang terjadi, Dia tahu yang terbaik. Namun ternyata Tuhan punya rencana yang indah, sekitar 2 minggu kemudian kami mendapat informasi bahwa visa kami sudah disetujui. God is really good to us!

Berangkat tahun 2013 atau 2014?

Setelah visa saya keluar, saya masih belum yakin kapan saya bisa memesan tiket, dst. Hal ini dikarenakan saya merasa bahwa kondisi keberangkatan saya ini “tidak normal” (berangkat 2013, menjadi peneliti beberapa bulan, kemudian menjadi mahasiswa “resmi” tahun 2014). Beberapa email ke staf Dikti tidak direspon dengan jelas (saat ini Dikti sudah mempunyai forum resmi dimana penerima beasiswa akan didengar langsung, it’s a good improvement ). Namun saya bersyukur karena mendapat kontak staf Dikti yang lain dari staf kampus saya, dan mendapatkan penjelasan yang “luar biasa” lengkap. Beliau menyampaikan bahwa saya harus segera memesan tiket jika akan berangkat tahun ini.

Pada saat mendengar berita tersebut, saya sedang dalam perjalanan ke bandara karena akan ada acara di Bali dan Jakarta (saya cuti sekitar 1 minggu). Akhirnya proses pemesanan tiket saya lakukan dari Bali, sedang pada saat yang sama saya sangat dibantu staf studi lanjut untuk menyelesaikan proses administrasi di kampus. Setelah semua proses selesai dan saya (bersama keluarga) kembali ke Surabaya, dalam waktu 5 hari saya sudah harus berangkat ke Jakarta, kemudian ke Sydney. It’s full speed!

Lapor diri ke Dikti (pertengahan November 2014)

Langkah penting terakhir sebelum saya berangkat studi ialah lapor diri ke Dikti untuk tanda tangan surat perjanjian dan mendapatkan uang saku (settlement allowance dan living allowance 1 bulan). Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya mengirim email ke Dikti bahwa saya akan lapor diri di tanggal tertentu. Bersyukur seluruh proses di Dikti lancar (terima kasih untuk pelayanan Dikti yang makin membaik), dan esoknya saya siap berangkat ke Sydney.

***

Pelajaran

Apa yang saya pelajari dari perjalanan panjang di atas? Saya belajar bahwa sekalipun segala sesuatu seperti berjalan tidak beres, terlalu lambat, tidak jelas, namun tangan Tuhan yang maha besar menuntun dan menolong saya. Alih – alih mengeluh, merasa sial, sedih dan marah, jauh lebih baik untuk mengucap syukur, berdoa, berharap, dan terus berjuang. Belajar bahwa perseverence dan endurance sangat penting untuk setiap tahapan hidup kita. Thanks God for Your goodness to us!

Semoga bermanfaat!

“… Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut : bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN … “

Advertisements

2 thoughts on “Perjalanan Panjang Mendapatkan Beasiswa Luar Negeri DIKTI

  1. Kevin Budihargono

    Sukses terus Pak Handy,
    Sharing pengalaman dari Pak Handy selalu menginspirasi saya dan teman-teman untuk berani keluar dari zona nyaman kami untuk menggapai sesuatu yang jauh lebih baik lagi
    Semoga lancar studynya dan dapat terus membagikan ilmu dan pengalamannya yang pastinya sangat dibutuhkan mahasiswa-mahasiswa di UK Petra.
    Tuhan memberkati Pak Handy sekeluarga

    Reply
    1. Handy Post author

      Hi Kevin, thanks apresiasinya. Sangat menguatkan kami di sini juga karena kami sadar bahwa menjadi dosen (dan pembelajar) bukan hanya memberi pengaruh dari sisi pengetahuan, namun juga dari pengembangan karakter.. Good luck for you and all of your friends in JTE -UKP!

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s