Mencari topik disertasi = mengenal supervisor lebih dekat

Tantangan pertama yang harus dilalui mahasiswa Ph.D. ialah mencari topik penelitian untuk disertasinya. Untuk saya pribadi, pencarian topik ini membawa saya untuk “mengenal” profesor (supervisor) saya lebih dekat. Hal yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya, namun sangat penting bagi mahasiswa Ph.D. Here is my story…

keep-calm-and-write-your-proposal-13

My first (and unused) research proposal

Semuanya dimulai saat saya mencari Profesor yang bidang minatnya sama dengan saya. Mimpi saya ialah melanjutkan penelitian saya saat studi S2 yang berkaitan dengan rescue robot dan reinforcement learning (atau machine learning secara umum). Proposal yang saya ajukan untuk mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) juga berkisar di bidang tersebut.

Hal yang saya tidak sadari saat itu ialah sangat luasnya 2 bidang di atas, dan bidang penelitian pembimbing saya sebenarnya berada di spektrum yang agak berbeda dengan apa yang saya bayangkan. Singkat cerita, proposal tersebut hampir sama sekali tidak saya gunakan dalam menyusun proposal Ph.D. sebenarnya.

Just follow my passion (is not always a good idea)

Di fase awal bimbingan, Profesor saya hanya mengarahkan untuk banyak membaca penelitian terbaru, sambil menyarankan beberapa nama peneliti yang layak dijadikan referensi. Pada fase ini saya dengan bersemangat membaca banyak paper yang menarik minat saya dan mencoba menemukan topik penelitian yang sesuai. Sebagian besar paper yang saya baca adalah tentang penerapan statistical learning dan robot control yang familiar dengan background ilmu saya saat S1 dan S2 dulu.

Di kemudian hari saya baru sadar bahwa saat itu sangat sedikit paper pembimbing yang saya baca dengan mendalam, karena penelitian beliau lebih banyak ke relational learning, logic, dan classical Artificial Intelligence, topik – topik yang asing dengan saya.

(Feels like) hitting the wall

6 bulan kemudian, saya merasa sangat sedikit kemajuan yang saya dapatkan. Saya membuat beberapa tulisan pendek yang berisi review dari paper – paper yang saya baca, namun profesor saya hanya memberikan komentar umum dan menunjukkan (secara tersirat) ketidakpuasan akan hasil belajar saya. Beliau juga memberikan masukan secara praktis tentang kelemahan – kelemahan dari metode yang coba saya ajukan. Bahkan beliau menyampaikan bahwa saya perlu menemukan “problem” yang tepat untuk diselesaikan sebelum mengajukan metode tertentu. Hal ini membuat saya bingung dan (sedikit) galau, karena sepertinya hal – hal yang saya pelajari selama ini tidak ada artinya.

Pada fase ini saya mulai memikirkan pentingnya peran pembimbing dalam studi saya. Jika saya mengajukan bidang yang berbeda dengan keahlian pembimbing, tentunya beliau tidak akan maksimal dalam membimbing saya. Saya juga tidak akan mendapatkan masukan terkait novelty dan contribution di suatu bidang ilmu yang bukan bidang keahlian beliau. Hal lain yang lebih berat ialah saat saya harus menulis disertasi, dimana disertasi ini akan dikirimkan ke external examiner yang sering kali ialah kolega – kolega profesor saya yang tentunya sebidang dengan beliau. Seperti ungkapan dosen di kelas metodologi penelitian saya, “mahasiswa Ph.D. ialah pembawa obor penelitian dari profesornya”.

“Witing tresno jalaran soko kulino” (jatuh cinta karena sudah terbiasa)

Akhirnya saya memutuskan untuk memulai semua dari “nol”. Saya lepaskan metode – metode “favorit” saya dan kembali mencari masalah untuk dipecahkan tanpa memikirkan metode yang akan saya pakai. Pada fase ini, saya kembali mendalami paper – paper dari pembimbing dan mahasiswa – mahasiswa beliau. Di sini saya mulai memikirkan bagaimana mensinkronkan ide – ide saya dengan bidang minat pembimbing.

Saat itu saya merasa khawatir jika topik yang saya ambil terlalu sulit dan tidak menarik minat saya (karena bidang yang memang berjauhan). Namun saat saya melihat ke belakang, saya mendapati berkali – kali saya “terpaksa” melakukan sesuatu yang pada awalnya tidak saya sukai. Saya tidak hobi elektronika saat SMP atau SMA, namun saya mengambil jurusan Teknik Elektro. Saya tidak tahu banyak tentang PLC, tapi saya memilih topik PLC untuk skripsi S1 saya. Saya tidak pernah “menyentuh” robot saat S1 namun mengambil topik robot untuk thesis S2. Dan semua pengalaman tadi berakhir dengan saya “jatuh cinta” pada bidang – bidang tersebut. Ada situasi – situasi di mana kita tidak bisa memilih, dan dengan pertolongan Tuhan, pada akhirnya kita akan bisa menyukai pilihan yang kita ambil tersebut.

Pada tahapan ini saya baru menyadari bahwa sebagian besar masukan profesor untuk saya sebenarnya tertulis di karya – karya ilmiahnya. Beliau tidak pernah menyampaikan, “baca paper saya dan lanjutkan ide saya”, karena itu akan membuat saya lebih “kerdil” dan tidak mandiri dalam meneliti. Dengan menemukan dan (berinisiatif) membaca sendiri, saya bisa memformulasikan ide dengan lebih bebas, namun masih dalam koridor penelitian yang sama dengan pembimbing. Akhirnya saya muncul dengan beberapa ide untuk menyelesaikan research problem, dan pembimbing memberi lampu hijau untuk meneruskan.

Towards the “real” proposal

Tahapan berikutnya ialah banyak membaca paper – paper untuk mendetailkan ide dan mengembangkannya hingga muncul kebaruan. Selain itu saya harus mempelajari tools terkait dan menerapkannya secara praktis. Hal lain yang harus saya lakukan ialah mulai menuliskan draft untuk research proposal saya. Untuk hal ini mahasiswa Ph.D. di fakultas Engineering – UNSW “dipaksa” menulis proposal dengan mengikuti kelas GSOE 9400 (Engineering Postgraduate Research Essentials).

Setelah perjalanan panjang yang saya bagikan di atas, proses penulisan draft menjadi lebih mudah, karena saya tahu apa yang diinginkan pembimbing dan saya sendiri (sedikit demi sedikit) mulai menyukai topik yang saya ajukan. Dengan bimbingan profesor, saya sempat menulis draft singkat penelitian untuk diajukan ke doctoral consortium sebuah conference. Meski pada akhirnya tidak diterima, namun saya semakin memahami arah penelitian yang akan saya lakukan plus (sedikit) mengenal gaya penulisan pembimbing saya.

===

Akhir cerita, sebenarnya proposal saya saat ini juga belum jadi 🙂 , baru akhir Februari tahun depan akan saya kumpulkan berbarengan dengan Annual Progress Review (semacam sidang proposal). Namun pengalaman setahun ini mengajarkan saya bahwa mencari topik penelitian untuk mahasiswa Ph.D. sama halnya dengan melewati perjalanan untuk “mengenal” profesor saya lebih dekat.

Bagaimana dengan Anda?

Advertisements

One thought on “Mencari topik disertasi = mengenal supervisor lebih dekat

  1. Vita

    Izin komentar lagi, saya bersemangat mengikuti perjalanan pak Handy soalnya, hahaha..
    “Mengenal supervisor lebih dekat” memang salah satu kunci studi PhD kita. Di tahun pertama saya blm kenal seperti apa spv saya. Menginjak tahun kedua sy mulai mengenal gayanya: tipe yg visioner (dia sndiri prnah blg gt), ide2nya bagus dan mencakup rencana jangka panjang, cenderung berpikir secara luas tapi tdk detail. Menghadapi tipe gini hrs hati2. Tapi di thn pertama sy blm tau sifatnya jd ide2 dan feedback dari dia terhadap pekerjaan saya selalu saya seriusi.. Barulah thn kedua saya lbh hati2 menyikapi idenya yg sering tdk memperhatikan hal2 detail dan tantangan yg mungkin muncul (cukup srg memberi ide yg sebetulnya dia sendiri ga pny background di situ… T_T)

    Btw saya dan suami sepakat bhw gaya pembimbingan di Ostrali cenderung lebih bebas & “melepas” kalau dibandingkan di Jepang, misalnya.
    Btw lagi saya juga termasuk orang yg proposal awalnya tdk kepake sama sekali 😀 dan topik riset sgt berbeda dg proposal awal 😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s