Apakah aku “layak” untuk menjadi mahasiswa Ph.D.?

Pertanyaan di atas sering kali “menghantui” saya dalam tahun pertama studi Ph.D. di UNSW Australia. Akibat latar belakang bidang yang berbeda, saya sering mendapati bahwa pengetahuan saya tentang suatu masalah terkadang lebih buruk dari pada mahasiswa undergraduate di kelas. Bahasa Inggris yang terbatas juga menjadi hambatan untuk berdiskusi dengan profesor ataupun mahasiswa lain. Perasaan minder dan terisolasi karena perbedaan budaya makin memperburuk kondisi ini.

negativePada fase tersebut pertanyaan – pertanyaan negatif (yang sejenis dengan judul di atas) sering muncul :

  • “Apakah aku akan bisa menyelesaikan studiku?”
  • “Apakah aku dapat “bersaing” dengan mahasiswa Ph.D. lainnya?”
  • “Apakah aku sedang menipu Profesorku dengan berpura – pura bahwa aku pandai dan kompeten?”

Intinya adalah saya meragukan kemampuan diri sendiri. Dan hal itu mengurangi semangat dan menyerap energi (yang seharusnya saya gunakan untuk belajar). Dalam masa – masa negatif ini, berikut beberapa hal yang membantu saya.

Berpikir rasional

Saat saya mulai berpikir negatif, berpikir rasional sangatlah membantu. Jika profesor saya memutuskan untuk menerima saya sebagai mahasiswa Ph.D., tentunya beliau percaya bahwa saya layak dan akan mampu menyelesaikan studi. Kemudian jika sampai sekarang saya masih mendapatkan approval dari profesor untuk progress report setiap semester, berarti performa saya masih acceptable dan cukup baik.

Bekerja keras dan membiarkan “waktu” yang membuktikan

Ada kalanya yang kita perlu lakukan hanyalah “membiarkan waktu yang membuktikan”. Maksudnya ialah kita perlu waktu untuk membuktikan pada diri sendiri (dan profesor) bahwa kita kompeten sebagai mahasiswa Ph.D. Saat saya menyelesaikan kuliah – kuliah saya (dengan beberapa tugas project yang cukup baik hasilnya), saya mulai merasa percaya diri (dan lega 🙂 ). Ternyata saya bisa. Saya percaya ke depan akan ada hasil – hasil positif lainnya, jika saya mau berusaha dan bekerja keras.

Merayakan (kembali) keberhasilan (di masa lalu)

Hal lain yang menolong ialah merayakan kembali pencapaian (dan keberhasilan) yang telah saya capai di masa lalu. Misalnya saat paper saya diterima di jurnal atau conference tertentu, saat buku pertama saya terbit, atau saat saya mendapatkan scholarship untuk mengikuti summer school beberapa bulan yang lalu. Bukti – bukti otentik tersebut dapat menguatkan kembali kepercayaan diri saya.

Memiliki growth mindset

Perasaan negatif biasanya muncul karena kita merasa kurang pandai, dan kita beranggapan bahwa kepandaian kita sudah mentok. Peter C. Brown (dkk.) dalam bukunya “Make It Stick” mengemukakan konsep “growth mindset”, yaitu cara pandang bahwa otak kita masih bisa bertumbuh dan berubah saat seseorang belajar hal – hal baru. Kepandaian seseorang bukanlah bawaan lahir semata, namun dapat dikembangkan (dalam batas tertentu) selama dia mau belajar.

Di saat kita gagal atau mengalami kesulitan dalam mempelajari sesuatu, kita bisa berpikir, “aku ini memang bodoh, makanya aku tidak bisa mengerti konsep ini”, atau alternatif lain, “konsep ini pasti bisa dimengerti, hanya saja aku belum cukup keras berusaha untuk memahaminya”. Kegagalan bisa kita anggap sebagai tanda kebodohan, atau sebagai petunjuk untuk menemukan solusi melalui cara yang lain.

Menyadari adanya impostor syndrome

Jika Anda pernah mempertanyakan di dalam hati, “apakah aku sedang berpura – pura bahwa aku pandai dan mampu di depan orang lain?”, “apakah aku sedang membohongi profesorku?”, mungkin Anda sedang mengalami impostor syndrome (impostor : penipu, menyamar). Syndrome ini biasanya dialami oleh orang – orang yang bersifat high achievers, dan dalam sebagian besar kasus, perasaan “menipu” tersebut tidak benar adanya.

Berikut ini saran dari Margie Warrel, seorang penulis, tentang tips untuk mengatasinya

  • Focus on the value you bring; not on attaining perfection
  • Own your successes. You didn’t get lucky by chance.
  • Cease comparisons. They’re an act violence against oneself.
  • Hold firm to ambition. Risk outright exposure!

Mengingat Tuhan dalam setiap usaha kita

Saat saya menuliskan pada kalimat – kalimat di atas “saya bisa …” atau “saya mampu …”, sebenarnya tidak demikian adanya. Ada tangan Tuhan yang menolong saya dalam setiap pengerjaan tugas dan permasalahan. Saat saya tidak mampu lagi berpikir dan belajar, Tuhan dengan murah hati membukaka jalan. Karenanya doa harus senantiasa menyertai setiap usaha keras kita. Saya layak menempuh studi Ph.D., karena Tuhan yang sudah membukakan jalan sedemikan rupa.

Tetap semangat!

Sumber :

  1. Peter C. Brown, et. al., “Make It Stick :  The Science of Successful Learning”, Belknap Press, 2014
  2. Margie Warrell, “Afraid Of Being ‘Found Out?’ How To Overcome Impostor Syndrome”, http://www.forbes.com/sites/margiewarrell/2014/04/03/impostor-syndrome/

  3. sumber gambar : https://www.victoria.ac.nz/news/2014/dealing-with-negative-thinking
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s