Confirmed or not confirmed?

Setiap mahasiswa Ph.D. harus melalui fase konfirmasi sebagai persetujuan bahwa ia layak untuk meneliti sebagai mahasiswa Ph.D. Hal ini seperti layaknya seorang pelari yang bersiap untuk berlari dari posisi Start. Di posting ini, saya ingin berbagi tentang pengalaman saya melalui fase konfirmasi, dan untuk saya,  seperti biasa, fase tersebut tidak mudah untuk dilewati.

usain-bolt-starting-to-run-wallpaper-53e3e83a83fd8

Tentang tahap konfirmasi

Di UNSW, fase ini ditentukan dari hasil sidang Annual Progress Review (APR) yang pertama. Ada 3 hasil yang mungkin didapatkan : satisfactory, marginal satisfactory, dan unsatisfactory. Untuk APR pertama, hasilnya harus satisfactory, jika tidak mahasiswa harus melakukan sidang ulang 3 bulan berikutnya. Hal yang “menakutkan” ialah jika mahasiswa gagal dalam sidang ulang, ada kemungkinan universitas akan mencabut statusnya sebagai mahasiswa.

Dalam APR, mahasiswa harus menyiapkan proposal penelitian, mempresentasikan di depan panel, dan menjawab pertanyaan dari panel. Hal yang terberat (dan terpenting) tentunya ialah mempersiapkan proposal penelitian, karena dari sini akan terlihat apakah mahasiswa menguasai bidang keilmuan yang ditekuni, memahami state of the art dari bidang tersebut (melalui literature review yang komprehensif), dan dapat menemukan novelty dari penelitian yang direncanakan ke depan.

Persiapan yang berat

Seperti saya tuliskan di posting sebelumnya, saya mengalami kesulitan untuk menentukan arah (dan novelty) penelitian karena latar belakang keilmuan yang berbeda. Bahkan setelah saya memutuskan untuk mengikuti arahan profesor, masih ada kesulitan lain, yaitu menguasai bidang yang baru tersebut. Saya harus “melupakan” puluhan paper yang sudah saya pelajari di 6 – 9 bulan pertama (tentang robot control, reinforcement learning, dan metode statistical learning lainnya)  dan mengawali mempelajari banyak paper di bidang yang baru tersebut (logical concept, relational learning, symbolic planning, etc.). Bahkan saya baru mulai mempelajari bahasa pemrograman utama yang akan saya gunakan (PROLOG) di bulan November tahun lalu. Saya tertinggal cukup jauh.

Setelah hiruk pikuk tugas kuliah (dan menjadi asisten) di semester 2, saya mulai fokus sepenuhnya untuk mengejar ketertinggalan tersebut dan bersiap menghadapi APR 1 di akhir Februari 2015. Saat itu saya tidak bisa berdiskusi leluasa dengan Profesor untuk mempertajam ide penelitian, karena satu hal sederhana : saya belum menguasai dasar dari bidang ilmu tersebut. Sebulan sebelum APR, akhirnya saya menyelesaikan draft pertama proposal saya dan mengirimkannya ke pembimbing. Hal yang saya tidak perhitungkan ialah profesor umumnya menghadiri konferensi atau kegiatan akademik lainnya di hari libur kuliah seperti waktu itu. Profesor saya pergi ke beberapa negara selama 2 – 3 minggu. Email saya tentang draft proposal tidak dibalas oleh beliau.

Saat menunggu, banyak sekali pikiran negatif yang berkecamuk di kepala saya : “mengapa saya dulu tidak segera mempelajari bidang ini?”, “apakah profesor dengan sengaja mengabaikan penelitian saya?”, “bagaimana jika APR saya gagal karena kurang persiapan?”, dan lain – lain. Saya merasa sangat memerlukan bantuan profesor untuk mempertajam arah dan kebaruan penelitian di bidang yang baru buat saya ini. Dan waktu terus berjalan. Akhirnya profesor datang untuk berdiskusi tentang proposal (dan presentasi) saya 1 minggu hari sebelum APR! Dalam waktu singkat saya revisi proposal dan slides presentasi saya. Namun, ketua tim panel merasa tidak nyaman dengan hal ini (karena proposal dan dokumen lain belum beliau terima) dan memutuskan untuk memundurkan sidang beberapa hari kemudian.

Fail!

Sidang APR 1 akhirnya berjalan (25 Februari 2015), situasi sudah agak negatif karena kejadian – kejadian sebelumnya. Beberapa teman Ph.D. yang lain mengatakan, asal pembimbing mendukung, maka APR akan berjalan lancar. Profesor saya sangat mendukung saya meski progress saya lambat. Bahkan dalam sidang, beliau banyak membantu menjelaskan beberapa konsep pada tim panel (yang sama sekali tidak meneliti di bidang robotika). Saya sendiri sangat tegang dan merasa kurang confidence (karena pemahaman yang terbatas dan kurang bimbingan). Setelah sidang selesai, saya diberitahu ketua tim penguji, bahwa hasilnya kurang memuaskan, namun terlalu negatif untuk mendapatkan marginal satisfactory. Beliau hanya menyampaikan saya perlu closely work together with my supervisor selama 3 – 6 bulan ke depan, dan tidak perlu ujian ulang. Saya merasa sedikit lega (meski kurang puas) dan sempat memberitahu keluarga dan teman bahwa saya berhasil lulus di sidang APR.

Sekitar satu bulan kemudian, saya mendapat kabar mengejutkan dari ketua tim panel : saya mendapatkan hasil marginal satisfactory dan harus melakukan ujian ulang! Beliau (secara tersamar) meminta maaf karena perbedaan hasil ini dikarenakan ada masukan lain dari koordinator postgraduate di jurusan kami. Dengan berat hati (dan rasa malu) saya menerimanya, dan mempersiapkan sidang APR berikutnya. Saat itu mulai terpikirkan bagaimana jika saya gagal di sidang berikutnya dan harus pulang ke Indonesia. Hmm..

Blessing in disguise

Untuk saya, hal terberat untuk kembali mempersiapkan diri ialah perasaan malu, tidak percaya diri dan takut (kembali) gagal. Namun setelah berdoa dan merenungkan Firman, saya diyakinkan bahwa Tuhan pegang kendali atas seluruh hidup saya dan Dia tidak akan meninggalkan saya. Kemudian saya mulai memikirkan strategi yang lebih baik untuk menghadapi APR berikutnya. Dari evaluasi pribadi, hal yang perlu saya perbaiki ialah frekuensi dan kedalaman komunikasi dengan profesor. Hal ini agak sulit dibenahi karena profesor saya bukan orang yang suka dengan jadwal yang rigid. Beliau lebih bersifat spontan dan mengalir.

Namun rupanya kegagalan APR saya memberi blessing in disguise (berkah tersembunyi) untuk saya, karena mau tidak mau, profesor memberi perhatian yang jauh lebih besar pada saya. Saya pribadi yakin Tuhan juga melembutkan hati profesor. Sebelum saya mengambil langkah, beliau berinisiatif mengajak saya berdiskusi lebih jauh dan memberi masukan – masukan yang jauh lebih tajam. Saya yang mulai memahami bidang ilmu baru ini sedikit banyak bisa mengimbangi beliau dalam berdiskusi.

Hal lain yang menolong saya ialah pada waktu yang belum terlalu lama, profesor mengajukan research grant dengan topik yang sebagian besar berhubungan dengan topik penelitian saya. Saya segera menyetujui untuk bergabung dalam pengerjaan topik ini. Ditambah frekuensi bertemu seminggu sekali (kebetulan saya menjadi asisten kuliah profesor semester ini), membuat proses bimbingan berjalan baik.

Selain memperbaiki proses bimbingan, saya juga harus memperbaiki proposal saya. Dengan tambahan waktu 3 bulan, saya kembali mengevaluasi proposal saya dan menemukan banyak sekali kelemahan dalam content dan metode penulisan. Saya jadi bisa bersyukur karena penundaan ini membuat saya dapat menulis proposal dengan lebih baik. Demikian juga dengan presentasi. Tidak seperti APR yang pertama, kali ini profesor benar – benar membimbing saya dengan sangat detail.

Finally..

Sidang APR yang ke dua pun tiba (28 May 2015) . Saya pribadi merasa bahwa kali ini saya dapat menjelaskan dengan jauh lebih baik dan menjawab pertanyaan tim panel dengan lebih jelas. Profesor saya tidak terlalu banyak membantu kali ini, karena saya sudah jauh lebih paham dari APR sebelumnya. Di akhir sidang, sangat berbeda dengan sidang pertama, tim panel terlihat senang dan lebih ramah :), bahkan melemparkan beberapa joke, dan dengan yakin mereka menyatakan bahwa hasil sidang saya satisfied, dan saya confirmed sebagai mahasiswa Ph.D.

Saya mengucap syukur pada Tuhan atas kebaikanNya. Perjalanan (dan perjuangan) saya rupanya belum berakhir di tahap ini.

Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu.

 

Advertisements

2 thoughts on “Confirmed or not confirmed?

  1. Iwan Njoto Sandjaja

    Pengalamanku kurang lebih juga sama, Pak.. ketika qualifying exam juga diperpanjang…. Keep realizing that there is goal ahead which will make it all worthwhile if only we can put one foot in front of another until we get there!

    Please pray for me also… 😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s