Mengapa studi Ph.D.?

Kadang orang bertanya pada saya, “Mengapa kamu kuliah tinggi – tinggi? Kenapa harus melanjutkan studi sampai Ph.D.?”

phdJawaban yang naif mungkin : supaya mendapat gaji yang lebih besar, lebih keren (atau percaya diri), karena ada embel – embel doktor di nama kita, karena “dianjurkan” orang tua, atau sederet alasan lainnya.

Untuk saya jawabannya cukup mudah, karena saya adalah dosen maka adalah wajib hukumnya untuk melanjutkan studi sampai S3 sebagai bentuk tanggung jawab terhadap profesi yang diberikan Tuhan ini.

Namun jika alasan saya hanyalah “formalitas” karena saya adalah seorang dosen, hal tersebut kurang kuat untuk mendorong saya melewati masa yang berat (namun memuaskan) selama studi Ph.D. Saya mencoba menggali lebih dalam dan menemukan beberapa jawaban berikut.

Berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan

Di awal masa studi, profesor saya beberapa kali mengatakan bahwa penelitian saya haruslah memberi kontribusi pada ilmu pengetahuan bukan hanya di Australia, tapi di dunia! Hal ini berarti saya harus banyak membaca hasil penelitian para peneliti lain untuk menemuan state of the art di bidang yang saya tekuni.

Matt Might (profesor computer science di University of Utah) memberikan gambaran tentang studi Ph.D. dengan sangat baik. Berikut ini salah satu diagramnya.

PhDKnowledge.010source : http://matt.might.net/articles/phd-school-in-pictures/

Untuk bisa mencapai tahapan “break the boundary” di atas tentu tidak mudah. Mahasiswa Ph.D. harus bekerja keras untuk menguasai teori dasar,  memahami hasil penelitian terbaru, mengembangkan ide sampai mengimplementasikannya dalam bentuk eksperimen. Semua tahapan ini memerlukan ketekunan dan kegigihan.

Salah satu bahan bakar utama untuk memompa semangat belajar ini ialah rasa ingin tahu dan kecintaan pada suatu bidang ilmu. Jika anda tidak menyukai bidang ilmu anda, atau tidak merasa ingin tahu tentang perkembangan bidang tersebut, maka hampir tidak mungkin bagi anda untuk menghasilkan “breakthrough” dalam penelitian anda.

Dalam beberapa posting saya, saya sering menyinggung frase “jatuh cinta karena terbiasa”, karena tanpa “cinta”, saya yakin penelitian akan membosankan dan tidak bisa dinikmati.

Scratch your own itch

Saat anda sudah mencintai bidang ilmu anda, biasanya research problems akan bermunculan di mana mana. Anda menjadi lebih mudah mempertanyakan sesuatu. Anda akan punya banyak ide untuk menyelesaikan suatu masalah. Terkadang anda akan bangun di malam hari, atau membuka catatan di malam Minggu, karena ada ide atau pemikiran menarik yang amat sayang jika tidak direkam.

Ada pepatah menarik  yang berbunyi “scratch your own itch”. Dalam penelitian, hal ini menggambarkan rasa ingin tahu yang mendalam terhadap suatu masalah sehingga memberi dorongan yang kuat untuk memahami (dan mungkin memecahkan masalah itu). Seperti rasa gatal akut yang hanya bisa diredakan dengan menggaruknya :).

Saat seorang peneliti sampai di tahapan ini, saya yakin bahwa ia akan dapat memecahkan masalah tersebut (atau paling tidak menghasilkan satu langkah maju).

Berkontribusi untuk memecahkan masalah dunia

Ada kalanya dorongan untuk meneliti tidak datang dari dalam diri sendiri, namun dari orang lain. Kita hidup di dunia dengan segala permasalahannya. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan, kemiskinan, perubahan iklim yang dramatis, dan lain – lain. Adalah kebahagiaan yang tidak terkira saat hasil penelitian kita dapat membantu orang lain di sekitar kita.

Matt Might (University of Utah) menuliskan posting yang luar biasa tentang bagaimana dia mendapatkan semangat dan energi untuk meneliti karena ingin menyembuhkan anaknya yang menderita penyakit langka. Perjuangan yang sifatnya pribadi tersebut, tanpa dia sangka, memberi impact dengan skala nasional, bahkan internasional. Bukan hanya anaknya yang berpotensi mendapat pengobatan, namun anak – anak di seluruh dunia. Hampir seperti kebetulan, dia juga mendapat pengakuan atas kariernya sebagai profesor dan peneliti.

Sebagai ringkasan, Matt menyampaikan  “find a problem where your passions intersect society’s needs. The rest will follow.” (http://matt.might.net/articles/tenure/)

Untuk belajar menjadi peneliti yang baik

Studi Ph.D. sejatinya adalah fase pelatihan bagi seseorang untuk menjadi peneliti yang sebenarnya. Kita belajar bagaimana merumuskan suatu masalah, mempelajari literatur terkait untuk menemukan kebaruan, menulis dengan gaya akademis, melakukan eksperimen, menganalisa data yang diperoleh, mempresentasikan hasil penelitian, mebangun jaringan dengan penelit yang lain, dan seterusnya. Pendeknya, hampir semua skill yang diperlukan seorang peneliti kita pelajari di sini. Mungkin itu sebabnya staf pengajar di kampus luar negeri harus selalu bergelar S3.

Saya yakin setiap orang yang menempuh studi S3 akan memiliki cara pandang yang baru tentang penelitian dan bagaimana melakukannya dengan benar.

Ekspresi tanggung jawab pada Tuhan

Last but not least, untuk saya pribadi, studi S3 ini adalah tanggung jawab pribadi saya pada Tuhan. Tentu saya juga bertanggung jawab pada pemberi beasiswa (pemerintah Indonesia dan universitas tempat saya bekerja, UK Petra), namun yang terutama ialah pada Tuhan. Jika saya telah diberi kepercayaan (dari Tuhan) untuk menjadi pendidik, maka saya harus memberikan yang terbaik, salah satunya dengan mengambil studi S3.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s