How does a Ph.D. student learn?

Tanpa terasa, tahun ini ialah tahun ke 3 saya menempuh studi Ph.D. di UNSW, Australia. Saya ingin berbagi hal – hal unik tentang natur studi Ph.D. yang tidak pernah saya pikirkan sebelum menjalaninya.

phd-learn

Break out of the undergraduate mentality

Nasehat yang baik ini dikemukakan Jason Hong (CMU) [1]. Jika mahasiswa undergraduate hanya perlu mempelajari materi yang telah disampaikan dosen di kelas, maka mahasiswa Ph.D. harus mempelajari materi yang jauh lebih luas, bahkan yang tidak pernah disentuh pembimbingnya. Jika mahasiswa undergraduate  mendapat tugas mingguan dan mengikuti ujian di akhir semester, maka mahasiswa Ph.D. hanya akan melakukan defense dan atau submit the thesis setelah 3 – 4 tahun masa studinya.

Intinya, mahasiswa undergraduate dibimbing dengan detail oleh dosen untuk memahami materi dalam jangka pendek, sedang mahasiswa Ph.D. hanya mendapat arahan umum dan harus melakukan riset jangka panjang yang menghasilkan kontribusi original pada ilmu pengetahuan.

Perbedaan ini kadang membuat mahasiswa Ph.D. merasa “diabaikan” pembimbingnya, “tersesat” di hutan belantara bidang ilmu tertentu, dan tidak tahu kemana arah penelitian yang dilakukan. Untuk itu mahasiswa Ph.D. perlu beradaptasi dan keluar dari mentalitas mahasiswa undergraduate.

Own and love your research

Salah satu nasehat lain dari Jason Hong ialah perlunya “own your research” [1]. Saat mahasiswa Ph.D. sudah memilih topik penelitian (atau memperoleh topik dari pembimbingnya), maka dia harus merasa memiliki topik tersebut. Hal ini berarti memahami mengapa topik ini menarik, mengapa menggunakan metode tertentu dalam topik ini, apa kekurangan dan kelebihan metode tersebut, dan seterusnya.

Menurut saya pribadi, salah satu daya dorong untuk “own your research” ialah “love your research”. Meski anda berasal dari bidang yang berbeda, meski pendekatan yang anda (dan pembimbing) pilih bukanlah favorit pribadi anda, tidak ada pilihan lagi selain: cintailah topik anda. Rasa senang ini menimbulkan sangat banyak efek positif untuk penelitian anda:

  • Memunculkan rasa ingin tahu
  • Memberi energi untuk (rajin) meneiliti
  • Menghilangkan (minimal mengurangi) kebosanan
  • Menambah kepercayaan diri saat bertemu pembimbing atau peneliti lain

“Merasa bodoh” adalah hal yang wajar (dan penting)

Hal yang agak aneh namun umum dirasakan oleh setiap mahasiswa Ph.D. ialah “merasa bodoh”.  Penelitian adalah proses menemukan atau memperluas keilmuan baru, jadi  hampir pasti anda akan menyadari betapa banyak yang anda tidak tahu. Selain itu, benchmark anda bukan lagi mahasiswa sekelas, tapi mahasiswa di seluruh dunia. Semakin banyak belajar dan membaca penelitian mereka, anda akan semakin sadar bahwa (sekali lagi) banyak yang anda tidak tahu.

Definisi “pintar” akan menjadi sangat berbeda saat mengambil studi S3. Di satu sisi, hal ini sedikit melemahkan, karena tidak ada lagi pengakuan orang lain bahwa anda “pintar”. Namun di sisi lain, ini pengalaman yang mendewasakan karena mendorong kita untuk makin rendah hati. Rendah hati menjadi kata kunci yang baik bagi peneliti, karena tanpa itu, anda akan merasa tahu segalanya, sehingga anda akan berhenti belajar.

Martin A. Schwartz [2] dalam salah satu essay-nya menyampaikan pentingnya productive stupidity bagi peneliti di bidang science. Menurut dia, jika seorang peneliti menyadari bahwa dirinya bodoh atau tidak tahu tentang suatu hal, maka hal ini akan mendorong dia untuk fokus memecahkan masalah tersebut dan terkadang tidak menerima begitu saja hal yang sebelumnya dianggap benar.

Dia menyampaikan: “One of the beautiful things about science is that it allows us to bumble along, getting it wrong time after time, and feel perfectly fine as long as we learn something each time.” Tidak masalah untuk berbuat kesalahan dalam meneliti. Tidak masalah juga jika kita merasa bodoh. Asal kita belajar hal yang baru setiap waktu.

Kepandaian bukanlah kunci utama

Banyak orang menganggap bahwa kunci sukses mahasiswa Ph.D. ialah kepandaiannya. Jika seseorang lulus undergraduate dengan nilai tinggi, tentunya ia akan sukses mendapatkan gelar Ph.D. Namun banyak ahli yang membantah hal ini. Matt Might (University of Utah) menyampaikan bahwa kuncinya ialah kegigihan, keuletan dan ketekunan [3].

Saya pribadi sangat setuju dengan hal ini. Pertama, karena pada dasarnya saya bukan orang yang pandai (saya hanyalah mahasiswa dengan nilai rata – rata saat undergraduate). Kemudian saat menjalani studi Ph.D., saya baru menyadari luasnya bidang penelitian yang saya tekuni dan sangat banyak ketidaktentuan dalam bidang tersebut. Satu satunya cara untuk memecahkan masalah ialah dengan tekun meneliti hari demi hari.

Siklus berikut saya alami puluhan kali:

  1. Belajar / memahami teori
  2. Menerapkan / membuat program
  3. Stuck!
  4. Back to step 1

Tanpa ketekunan dan keuletan, siklus di atas sangat membosankan dan menguras energi. Namun lama kelamaan saya menyadari, jika saya terus mencari jawaban dengan sungguh – sungguh, maka saya akan menemukan jawaban dari masalah tersebut. James Hayton [4] menyatakan bahwa: “if I stick with the problem for a long time, then (somehow) I will find the solution”.

Matt Might [3] menyatakan hal serupa: “If you persevere to the end of this phase, your mind will intuit solutions to problems in ways that it didn’t and couldn’t before. You won’t know how your mind does this. (I don’t know how mine does it.) It just will.

Bukan sprint tapi marathon

Studi Ph.D. seperti lari marathon, bukan sprint. Untuk itu kita perlu memiliki mental pelari marathon, bukan pelari sprint. Tidak ada gunanya (bahkan berbahaya) jika kita berlari cepat di menit – menit awal, hanya untuk kehabisan tenaga sebelum melewati garis finish. Kemajuan – kemajuan kecil namun teratur akan lebih bermanfaat ketimbang lompatan besar namun kemudian berhenti. Untuk itu kita perlu menjaga semangat (motivasi) dan energi kita. Namun bagaimana caranya?

Inger Mewburn dalam blog populernya menyampaikan konsep ini [5]. Saat membaca blog tersebut saya tertarik dengan salah satu pengunjung yang memberikan komentar berikut

Jean Russell says: Three pieces I seem to work with:
1) to celebrate what you have achieved rather than worry about what you haven’t.
2) once the plan is made look at the next section and only the next section.
3) As long as it is moving it is fine.

Merayakan apa yang telah kita capai, lebih dari apa yang belum kita capai. Membuat rencana untuk satu langkah ke depan, dan tidak mengkhawatirkan langkah – langkah berikutnya. Selama kita membuat kemajuan (sekecil apapun), it is fine.

Kekhawatiran dan ketakutan sering menggerogoti energi kita untuk meneliti. Sebaliknya, mengucap syukur pada Tuhan dan merayakan keberhasilan (sekecil apapun) akan menambahnya berlipat kali ganda. Seperti ayat alkitab yang berkata: “sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari“.

Sumber:

  1. http://cacm.acm.org/magazines/2013/7/165494-phd-students-must-break-away-from-undergraduate-mentality/fulltext
  2. http://jcs.biologists.org/content/121/11/1771
  3. http://matt.might.net/articles/successful-phd-students/
  4. James Hayton, “PhD: An uncommon guide to research, writing & PhD life
  5. http://thesiswhisperer.com/2012/02/09/the-piece-of-dissertation-wisdom-that-made-me-want-to-scream/

Advertisements

5 thoughts on “How does a Ph.D. student learn?

    1. Handy Post author

      Bu Vita, kalau gak ditulis (plus dicite) di sini takutnya nanti lupa Bu, atau sudah gak mood nulis. Kan sayang, dapat pelajarannya susah dan mahal :). Btw saya menulis ini sebenarnya untuk diri saya sendiri kok Bu, sebagai pengingat di masa mendatang.

      Reply
  1. Pingback: How does a Ph.D. student learn? – Life Is a Journey

  2. Doddy Irawan

    Tulisan Yang Menarik Pak Handy,,,,, Saya Merasakan Hal Yang Sama, Ini Tahun 2 PhD saya… Dengan Tingkat Stress yang tinggi…!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s